KENANGAN DI BAWAH BULAN
Inilah malam yang dia tunggu-tunggu. Bulan menguning di atas kota. Jalanan belum begitu sunyi, masih ada simphoni penjual jagung bakar sepanjang trotoar. Api sisa pembakaran pun belum meredam. Asap putih masih menari-nari di atas paving block, sebuah tarian melankolis. Lampu-lampu yang membelah jalan begitu hangat menyapa. Beberapa bocah pengamen menghampirinya, menyanyikan lagu cinta yang ganjil. Irama lembut Bethoven terdengar dari sebuah kafe, yang memanjakan pengunjungnya dengan nuansa klasik yang romantis.
Dia kembali menyalakan cerutu yang mulai membeku di bibirnya. Sejak sore, ya sejak rona senja mulai berganti dengan semburat cahaya bulan, dan langit diramaikan bintang, dia telah duduk di sana. Di kursi itu, sambil menunggu. Sengaja dia memilih bangku paling sudut, persis sepuluh tahun lalu. Di sebelahnya, pohon sengon itu juga masih berdiri dengan angkuh. Beberapa helai daun kering yang lembut seperti salju, jatuh di atas meja bundar, juga di atas rambutnya yang basah oleh embun. Sebatang lilin mulai mengelupas dari matanya, yang terus memandang gerbang sebelah selatan.
Dua pekan lalu, wanita yang pernah menjadi kekasihnya ingin menemuinya di tempat itu. Seminggu sebelum malam pergantian tahun. Bukankah itu malam ulang tahun istrinya? Tetapi dia terlanjur berjanji untuk menemui wanita itu, karena hanya semalam dia singgah di kota ini. Setelah sepuluh tahun, setelah suatu malam selepas hujan, wanita itu mengucapkan selamat tinggal, hanya lewat telepon. Kemudian lewat telepon juga, wanita itu ingin menemuinya. Suatu malam, seminggu menjelang pergantian tahun. Dan malam ini juga, tepat tengah malam dia harus di rumah, merayakan ulang tahun istrinya.
“Aku senang kamu ma.... To be Continued
Belum ada tanggapan untuk "Kenangan Di bawah Bulan"
Posting Komentar
Jangan Cuma Baca Dan Download
Kasi Komentar Dunk :)